Tinggalkan komentar

Buanglah Cinta Pragmatismu itu!

»…..HANYA SEKEDAR BERBAGI…..«
Sekali-sekali membahas tentang hakekat cinta
Buanglah Cinta Pragmatismu itu!

Syeikh Buty mengatakan, cinta itu adalah “syu’ur qasry mulqa fil qalb”, perasaan yang dimasukkan ke dalam hati kita secara “terpaksa”, tanpa kita undang. Definisi luar biasa, kalau kamu setuju dengan definisi itu, maka kamu akan sadar bahwa cinta itu tidak bisa dipaksa. Makanya tidak aneh kalau aku menjawab ketika seorang teman bertanya apakah aku memiliki seorang wanita yang kucintai, ku jawab ada, sudah sejak lama. Dia Tanya kenapa kamu mencintai dia? Dengan mudah aku menjawab, “aku tidak tahu kenapa aku mencintainya”.

Kalau aku berbicara tentang cinta, aku tidak mau muluk-muluk, terserah kamu kalau kamu mau mewarnai langit, tetapi ingat kaki masih berpijak di bumi, boleh idealis, asal realistis. Aku tidak mau berbicara cinta yang indah-indah, aku cuma ingin menceritakan tentang cinta yang ku tahu saja, tidak lebih.


Aku mau cerita tentang cinta antara manusia saja lah, yang real dihadapi setiap hari. Berdasarkan firman Allah dalam surat ali imran ayat 14, “ dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan  kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta,……. Itulah kesenangan di dunia…”. Artinya, cinta kepada wanita, anak, dan harta itu memang sudah menjadi fitrah manusia, kamu tidak bisa lari, apalagi mengingkarinya. Meskipun dilain tempat rasulullah bersabda, “tidak beriman salah seorang dari kamu sampai aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, dan anak-anaknya, dan orangtuanya”. Dua hal ini, sedikit terkesan kontras, tapi nanti kita akan menjelaskan ini menurut teori cinta Dr. Saed Ramadhan Buty.

Ada macam-macam gaya orang mengekspresikan cinta, itu kembali kepada “kesehatan” hatinya. Ada yang suka mengobral kata-kata “cinta” itu, sebenarnya tidak ada tujuan tertentu, just for fun, cinta seperti ini jauh dari makna definisi Dr. Buty tadi. Ada lagi yang tidak pernah mengucapkan kata-kata itu sama sekali, tetapi hatinya selalu merindu pada seseorang, ini juga tidak jelas mau dihukumi apa.

Tradisi anak muda, ketika saling jatuh cinta, dia berjanji macam-macam, mulai dari akan saling setia sampai janji sehidup semati, sekan-akan kamu tahu apa yang akan terjadi 1 detik kemudian!. Kalau kamu pernah merasakan atau berbuat demikian, pernahkah kamu bertanya, “apakah yang membuat kamu bisa seperti itu?”. Kamu berdua merasa bahagia, tenang, bagai dunia milik berdua saat bersama, orang lain hanya ngontrak di dunia, dunia punya kalian. Aku berbicara kenyataan, aku tidak berbicara hukum agama, moral dan etika. “apa yang membuat kalian bisa begitu?”.

Dalam hal berjanji, Allah menegur kita dalam surat al Kahfi, “janganlah kamu mengatakan ‘aku pasti akan melakukannya besok’, kecuali dengan kehendak Allah”. Makanya, sebelum mengeluarkan janji macam-macam, ingatlah, ada kekuatan diluar sana yang kuasa melakukan segalanya. Termasuk mencabut cinta yang dimasukkan dalam hati kamu tadi dan menggantinya dengan benci.

Kita kerucutkan lagi permasalahan, kita ambil saja cinta antara dua manusia yang benar-benar tidak ada sebab, bukan karena cantik, kaya, ganteng dan pastinya bukan just for fun. Dua orang yang saling mencintai, karena tidak ada sebab luar, tidak bermotif macam-macam, hanya karena ada ikatan batin, mungkin ini makna dari kata rasulullah dulu, “al arwahu junudun mujannadah”, sebenarnya ruh-ruh manusia sebelum bersatu dengan jasad pernah saling mengenal di alam lain, ketika mereka bertemu kembali di dunia dengan lapisan jasad, maka langsung akrab, langsung bisa akur, saling pengertian dan mencintai, ketika ditanya kenapa? Tidak tahu kenapa….

Ketika cinta bertemu belum saatnya, dan Tuhan tidak menakdirkan mereka bersatu dalam ikatan nikah, sering kali orang tersebut kehilangan ruhnya, karena pada dasarnya dia itu junudun mujannadah. Meskipun pada akhirnya dia telah menikah dengan orang lain, tetapi hati pertama yang telah menyentuh jiwanya tidak akan pergi. Ini sangat berbahaya, hal ini akan berefek kepada berkurangnya “kapasitas” seseorang dalam menajlankan tugasnya, baik itu suami atau istri.

Kemudian ada lagi cinta yang pragmatis, dia bisa saja berpindah ke hati manapun, asalkan dia dapat untung, sebut saja ini cinta “akhir mau’if”, suami atau istrinya adalah terminal terakhir. Artinya, setelah lama bertualang dengan alasan cinta, yang menjadi pasangan hidupnya adalah terminal terakhir.

Maka jangan heran kalau ada yang bilang begini, “waktu masih pacaran, cewek itu berjanji macam-macam, akan setialah, sehidup semati lah, aku menunggu sampai kapanpunlah, tidak mau menikah kecuali sama kamulah…dst…, tetapi ternyata orang tuanya tidak setuju dia menikah sama kamu, akhirnya dia menikah dengan orang lain, yakinlah, itu cuma kata mulutnya saja! Setelah malam pertama lewat sama suaminya, dia sama sekali nggak ingat sama kamu lagi!! cowok juga nggak jauh beda, bahakan lebih parah!!”

Dengan ini, aku menyatakan cinta, janji, dan deklarasi apapun sebelum akad nikah adalah omong kosong. Tapi aku tidak menafikan rasa terpaksa yang dikatakan Syeikh Buty tadi, aku percaya itu ada, dan aku juga merasakan, cuma implementasinya saja mungkin yang berbeda-beda, tergantung suasana dan “kesehatan” hati.

Kenapa Allah menyuruh kita semua untuk ghazzul bashar, seperti firman-Nya dalam surat An Nur  ayat 29-30? Setelah hampir 8 tahun aku berfikir, aku sampai kepada kesimpulan bahwa semua jenis “cinta premature dan pragmatis” itu datangnya karena kita melanggar firman Allah dalam surat an Nur ayat 29-30 itu.

Ok, kita sepakat true love itu tidak ada sebab dan motif, tetapi semua hal itu ada “zariahnya”, ada jalannya. Hati kamu tidak akan “kejatuhan” cinta terhadap si Nada kalau kamu tidak pernah melihat si Nada itu. Karena tidak ghazzul bashar, hati kamu sakit. Makanya Allah bilang dalam ayat menjaga pandangan bahwa menjaga pandangan itu “athar lilqulub”, lebih baik, lebih bersih, dan membuat hati kamu lebih steril dari “cinta premature dan pragmatis”.

Ghazzul bashar secara bahasa artinya menundukkan pandangan, ini bukan berarti kita berjalan dengan selalu melihat ke tanah, kayak orang nyari uang receh jatuh, tetapi ghazzul bashar itu menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak boleh dipandang, yang sekirnya kalau dipandang akan menyebabkan “infeksi” hati. Kalau kata temanku, hati itu ruangan luas tidak bersudut dan dingin, kalau dia sedikit saja terinfeksi, maka susah mencari obatnya.

Dalam surat ali imran ayat 14, jelas-jelas Allah mengatakan bahwa cinta kepada wanita, anak, harta, pangkat dan kemewahan adalah fitrah manusia, kalau ada yang yang tidak suka, berarti dia memang sakit, ini artinya cinta kepada hal-hal itu memang wajar dan manusiawi. Tapi, dalam hadis rasulullah mengatakan “tidak beriman salah seorang dari kamu sampai aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, dan anak-anaknya, dan orangtuanya”, ini kan sekilas terlihat bertentangan, Allah bilang mencintai anak, wanita dan harta adalah fitrah, dan tidak menagatakan cinta kepda rasul adalah fitrah, tetapi kenapa rasulullah mengatakan hal lain?

Hal itu tidak bertentangan, silahkan kamu mengumpulkan harta, menikahlah sesukamu dengan wanita mana saja sesuai aturan agama, berketurunanlah sebanyak-banyaknya, tapi jangan sampai kamu memasukkan itu semua dalam hati, tetapi cukup dia sampai di tanganmu saja. Artinya jangan sampai kerena harta kamu sombong, berbuat sewenang-wenang, menganggap bahwa harta itu adalah hasil usahamu, bukan titipan Allah. Kemudian, jangan sampai karena anak dan istrimu kamu melupakan hak-hak Allah dan kewajibanmu kepada-Nya.

Adapun mencintai rasulullah itu dengan hati, kamu tidak perlu macam-macam, cintailah Allah dan rasul-Nya dengan menempatkannya dalam hatimu, dimanapun kamu berada, Allah dan rasul-Nya selalu kamu ingat, kamu selalu mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kapanpun dan dimanapun kamu selalu sadar kalau kamu itu cuma seorang hamba Allah yang tidak jelas juntrungannya kalau Allah tidak memberikan kamu hidayah-Nya lewat nabi-Nya itu. Kamu jadi manusia yang benar-benar manusia karena kamu sadar kalau kamu itu hamba-Nya, itu saja yang membedakan kamu dengan binatang.

Jadi, hadis rasulullah itu sama sekali tidak menafikan kalau kamu boleh mengumpulkan harta. Dalam hal ini, imam Izza bin Abdussalam menegaskan dalam Qawaid Kubranya, “laisa zuhdu ibaratan ‘an khuluwwil yadi ‘anil maal, lakinna zuhda huwa ibarat ‘an khuluwwil qalbi ‘anit ta’alluqi bil maal” , zuhud itu bukan berarti tangan kamu tidak memiliki kemewahan dan harta, tetapi zuhud itu adalah bersihnya hati kamu dari ketergantungan terhadap harta. Jadi, rumah besar, mobil mewah, istri banyak, anaka banyak, sama sekali tidak menafikan kalau kamu itu bisa menjadi orang yang zuhud.

Hati-hati dengan janji-janji dalam cinta prematur dan cinta pragmatis. Pastikan “syuu’r qasri mulqa fil qalb” kamu itu tepat sasaran dan implementasikan dengan penuh hikmah. Agama tidka pernah melarang cinta dan mencintai, bahkan menganjukan, asalkan kamu selalu memperhatikan etika dan aturan dalam mengekspresikan cintamu itu. Aku, kamu dan mereka semua ada karena cinta Allah, karena rahmat-Nya, kerena anugerah-Nya, makanya cintailah yang Maha cinta, dan cintailah hamba-hamba-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: